OthersSeptember 6, 2007 3:43 pm
Gema Sumpah Palapa
Di Kraton Majapahit, Ratu Tribuana Tunggaewi Jayawisnu Wardhani dihadap para Sentana raja dan Nayaka kerajaan Majapahit. Rakyan Mahapatih Gajahmada melaporkan hassil pelaksanaan Sumpah Palapa untuk menyatukan wilayah Nusantara. Bali yang dahulu masuk wilayah Singsari, merasa bebas dan tidak dibawah kekuasaan Majapahit pada saat kekuasaan Singasari dilanjutkan oleh Majapahit. Namun akhirnya kini Bali telah bersatu.
Selanjutnya Gajahmada bersama Wredatamantri Adityawarman mohon restu untuk menyatukan wilayah Nusantara bagian barat. Perjalanan pasukan Majapahit telah berhasil menyatukan wilayah Lamuri dan Samudra Pasai.
Raja Negeri TAmiang dan Kampar telah mendengar Gema Sumpah Palapa Gajahmada, maka kedua wilayah telah siap menolak Majapahit. Pada saat pasukan Gajahmada dan Adityawarman mendarat di wilayah Tamiang, mereka mendapat perlawanan dari penguasa Tamiang yang dibantu oleh Kampar. Seluruh muara menjadi pintu masuk kerajaan Tamiang ditutup dan dijaga dengan kekuatan prajurit yang besar.
Raja Tamiang memerintahkan pasukannya agar menebang Pohon Madangara yang berada di Muarabesar, yang menjadi pintu utama masuk ke wilayah Tamiang untuk dijadikan kapal perang yang mampu mengimbangi besarnya kapal pasukan Majapahit. Tetapi Pohon Madangara adalah peninggalan Kerajaan lama Tamiang yang dihormati para kawula Tamiang.
Arwah leluhur Tamiangpun murka kepada Raja Tamiang dan Prajuritnya yang tidak menghargai lagi kepada arwah leluhurnya, hingga pohon Madangara dapat dijadikan senjata pendobrak muara-muara yang menjadi pintu masuk negeri Tamiang oleh pasukan Majapahit. Akhirnya Tamiang dapat disatukan dalam kekuasaan Majapahit.
