Sunnatulllah menghendaki dalam setiap jenis makhluk ada pemimpin dan yang dimpin, yang memerintah dan yang diperintah. Hal ini ditujukan agar terdapat keserasian pendapat dan kesamaan keinginan. Sebab, jika tidak demikian akan menimbulkan pecahnya kekuatan, lemahnya ikatan serta terbelahnya kesatuan.
Suatu kaum yang tidak memiliki pemimpin, sebagai tempat rujukan segala permasalahan yang sulit dan tempat berlindung dari segala kesukaran, maka mereka akan menjadi korban, karena mereka tidak mengerti bagaimana mengambil suatu keputusan dan tindakan.
Jika ruh diumpamakan sebagai tonggak jasad, maka pemimpin umat diibaratkan sebagai ruh masyarakat. Jika pemimpin rusak, umatnya pun akan rusak, jika pemimpin baik, maka umatnya pun akan baik, sebab umat hanya akan berdiri tegak jika para pemimpin tegak dan membangkitkan mereka tatkala mereka jatuh, melurusan ketika mereka bengkok, mengulurkan tangan jika mereka terperosok, dan membimbing saat mereka tersesat.
Seseorang tidak akan menjadi pemimpin sejati hingga dalam dirinya terpenuhi syarat-syarat kepemimpinan, yaitu akal, ilmu, sehat hati, kepribadian, keberanian, jiwa yang bersih, perilau yang baik, pemurah, dan tidak takut untuk berkorban. Jika tidak memiliki sifat-sifat tersebut, maka kepemimpinannnya hanyalah semu belaka.
Banyak orang yang berakal lemah berlomba untuk meraih kepemimpinan. Mereka lupa bahwa pemimpin adalah juru bicara umat, pemikir, tempat bergantung saat terjadi musibah, benteng saat terjadi bencana, berlindung tatkala tercabik, dan landasal dalam menghadapi urusan-urusan besar. Selama beberapa kurun waktu umat Islam dipimpin oleh para pemimpin yang baik, tulus, pilihan dan reformis. Kemudian alur tersebut berubah dan jatuh. Lalu umat dipimpin oleh orang-orang yang fasik, pendosam penyeru kepada kebohongan dan kemaksiatan.
Zaman terus berputar dan umat pun terjaga dari tidurnya dan sadar dari kelaliannya. Umat tidak rela terus berada dalam cengkraman orang-orang yang hendak menghancurkannya. Umat tidak akan mengakui kepemimpinan orang-orang yang salah. Karena itu, marilah kita menuntut ilmu dengan sebaiknya, berpegang erat pada akhlak yang mulia, dan melaksanakan amal kebaikan dengan bimbingan akal yang sehat agar suatu saat dapat menjadi pemimpin yang baik bagi keluarga dan masyarakat.
Suatu kaum tidak akan pernah menjadi baik dan akan selalu kacau balau tanpa seorang pemimpin.
Dan kepemimpinan tidak akan baik jika penguasanya adalah orang -orang yang bodoh.
Sebagaiman rumah tidak akan bisa berdiri tanpa pilar-pilar.
Dan pilar tidak akan kokoh tanpa pasak.













btw bagaimana dengan pemimpin yang berjenis kelamin perempuan??
Comment by ridu — April 4, 2008 @ 5:47 pm
Kalo udah ggak ada pria yang bisa memimpin, baru perempuan boleh jadi pemimpin.
Comment by Annie — April 5, 2008 @ 4:38 pm
semoga kelak bisa jadi pemimpin yang baik… amin
Comment by Eka — April 11, 2008 @ 4:19 pm
Duh erwan dah jadi Pemimpin yang bener belum yah !!! instropeksi diri dan banyak istighfar di pojokan.
Comment by erwan — April 20, 2008 @ 10:45 am